Penyakit liver atau yang sering disebut dengan penyakit hati (dalam arti sebenarnya) adalah salah satu penyakit metabolik degeneratif yang masih menjadi masalah kesehatan dunia. World Healt Organization (WHO) menyebutkan sekitar sepertiga dari jumlah penduduk dunia atau sekitar 2 trilyun orang mengidap penyakit hati dengan angka kematian mencapai 1 juta jiwa seperti yang dikabarkan oleh Reuters pada tahun 2011. Namun kenyataanya perkembangan pengobatan penyakit hati masih sering menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.
![]() |
| Liver |
Gangguan hati selain dapat disebabkan oleh infeksi mikroorganisme, penyakit keturunan dan metabolik, obat, toksin, dan penyebab lain. Berbagai obat dan makanan dapat sebagai zat yang toksik dan menyebabkan kerusakan sel hati. Gangguan hati oleh karena obat-obatan ini biasanya merupakan toksik langsung yang tergantung pada masing-masing individu (Akbar, 2007).
Salah satu obat yang dapat menyebabkan kelainan hati adalah asetaminofen atau parasetamol, merupakan obat analgetik-antipiretik yang dikenal luas di masyarakat dan dikenal sebagai obat bebas atau Over the Counter Drug (OTC) dan dapat diperoleh mudah di toko obat maupun apotek tanpa resep dokter. Karena mudahnya didapat, risiko untuk terjadinya penyalahgunaan parasetamol menjadi lebih besar (Hidayat, 2007).
Kerusakan hati akibat parasetamol disebabkan oleh proses stres oksidatif metabolik NAPQI yang sangat reaktif berikatan secara kovalen dengan makromolekul vital sel hati. Kerusakan yang timbul berupa nekrosis sentrilobularis (Wilmana dan Gan, 2007). Enzim yang berhubungan dengan kerusakan hati yaitu aminotransferase dan oksidoreduktase. Serum Glutamat Piruvat Transaminase (SGPT) adalah enzim aminotransferase yang normalnya terdapat di jaringan tubuh terutama di hati. Kadar SGPT dalam darah akan meningkat pada kerusakan hati akibat parasetamol (Sacher and Mc Person, 2004).
Konsumsi makanan kaya antioksidan dapat mengurangi penyakit yang disebabkan oleh stres oksidatif dan inflamasi. Antioksidan juga berperan penting dalam menghambat dan menetralkan radikal bebas seperti yang telah disampaikan oleh Rajkapoor et al., 2008. Selain itu, antioksidan mampu menghalangi proses oksidatif serta menetralkan radikal bebas untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif dalam tubuh manusia (Agustina dan Ahmad, 2003).
Dari berbagai jenis tanaman obat yang diketahui mengandung antioksidan, silymarin merupakan obat herbal yang memiliki efek protektif dan kuratif terhadap hepar (Biogenic Stimulant Inc., 2006). Silymarin telah digunakan sejak dulu untuk mengobati penyakit liver. Efek hepatoprotektornya telah diketahui sejak ratusan tahun yang lalu (Wu et al., 2008).
Selain silymarin, yang menarik perhatian penulis adalah Ocimum sanctum atau yang biasa dikenal dengan daun kemangi. Daun kemangi yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia sebagai bahan pelengkap lalapan di berbagai warung makan. Selain itu, karena baunya yang harum, kemangi lebih sering digunakan untuk mencuci tangan. Senyawa antioksidan yang terkandung dalam Ocimum sanctum berupa senyawa fenolik (tokoferol, flavonoid, asam fenolat), senyawa nitrogen (alkaloid, turunan klorofil, asam amino, dan amina), dan beta karotene (Hidayati, 2008).
Sehingga dari uraian diatas dimungkinkan Daun Kemangi memiliki manfaat yang sangat banyak untuk kesehatan tubuh. Termasuk untuk mengobati penyakit-penyakit degeneratif seperti liver dan lain sebagai nya pada tubuh manusia.

Komentar
Posting Komentar